Disusun Oleh: Ramadhian F

Pasukan Belanda memburunya siang dan malam. Nama Kapten Harun Kabir menjadi mimpi buruk bagi pasukan Belanda di Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Dia memimpin tim demolisi yang menghancurkan obyek vital yang dikuasai Belanda.
Harun Kabir sejatinya adalah seorang birokrat sipil. Dia pernah menjadi asisten residen Bogor yang membawahi bagian keuangan. Namun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 membuat api semangat berkobar di mana-mana. Menak Sunda itu mengorbankan posisinya untuk ikut berjuang di barisan merah putih.
Sesaat setelah proklamasi, Harun Kabir membentuk Laskar Rakyat Ciwaringin 33. Nama tersebut diambil dari alamat rumah Harun Kabir di Kota Bogor, Jalan Ciwaringin 33.
Laskar Rakyat Ciwaringin 33 adalah organ perjuangan yang cukup besar. Anggotanya mayoritas berasal dari para siswa sekolah pertanian dan pemuda jawatan kereta api. Sejumlah aktivis pemuda di Kota Bogor juga bergabung. Salah satunya adalah Margonda.
Awalnya Laskar Rakyat 33 tak memiliki senjata api. Kecuali senapan berburu, milik Harun Kabir dan sepucuk pistol tua yang diberikan Gatot Mangkupraja pada Harun Kabir. Para pemuda itu hanya bersenjatakan senjata tradisional seperti klewang, keris, dan golok.
Baru pada pertengahan September 1945, Laskar ini memiliki senjata hasil merampas dari serdadu Jepang. Bersama pasukan BKR pimpinan TB Muslihat, mereka menyerang stasiun Bogor yang saat itu dikuasai Jepang. Tak ada perlawanan berarti dari Tentara Jepang yang kalah perang.
“Tentara Jepang yang sudah tak memiliki semangat lagi akibat kalah perang melawan sekutu, kami kalahkan secara mudah,” kenang Karna, seorang anggota Laskar Ciwaringin 33.
Pasukan Harun Kabir juga menyergap tentara Jepang di sekitar stasiun-stasiun kecil seperti Cilebut, Citayam dan Bojonggede.
Aksi duet Harun Kabir dan TB Muslihat berlanjut dengan menyerang markas Kidobutai di Nanggung, Leuwiliang. Serangan itu berakhir dengan sukses. Mereka mendapat banyak rampasan senjata dari pasukan Jepang. Pasukan ini juga berhasil menawan 252 serdadu Jepang.
Presiden Sukarno dan Tan Malaka di Ciwaringin 33
Rumah Harun Kabir di Ciwaringin 33 juga menjadi pusat gerakan kaum nasionalis. Komite Nasional Indonesia (KNI) Bogor dan Palang Merah Indonesia (PMI) Bogor, pernah bermarkas di sana.
Harun Kabir juga memiliki jaringan luas dengan para pemimpin Indonesia kala itu. Termasuk Presiden Sukarno. Bahkan saat situasi Jakarta tak menentu, Presiden Sukarno pernah menitipkan keluarganya untuk berlindung di rumah Harun Kabir.
Fatmawati, Guntur dan kedua orang tua Fatmawati, Hasan Din dan Siti Chadijah dititipkan di Ciwaringin 33 karena saat awal kemerdekaan, Istana Bogor masih dikuasai para pemuda dengan penampilan angker dan tanpa disiplin militer.
Tak cuma keluarga Bung Karno, tokoh sekaliber Tan Malaka pun pernah berlindung di rumah Harun Kabir. Sosok yang selalu misterius ini bersembunyi di sana dan menggunakan nama samaran Ilyas Husein.
Harun Kabir juga yang melindungi orang-orang Eropa dan Indo di saat situasi keamanan tidak menentu. Di rumahnya, Harun menampung orang-orang tersebut dan melindunginya. Saat itu orang Eropa dan Indo menjadi target perampokan para perampok yang berkedok laskar. Menurutnya Proklamasi bukan hanya soal kemerdekaan, tapi juga soal kemanusiaan.
“Kita berjuang dan bertempur bukan hanya untuk kepentingan bangsa, tapi juga untuk kemanusiaan,” demikian pidato Harun Kabir di hadapan pasukannya.
Komandan Gerilya
Pertengahan Oktober 1945, pasukan Inggris mulai tiba di Kota Bogor. Mereka bertugas melucuti tentara Jepang dan mengurusi soal tawanan perang.
Pasukan Inggris yang bersenjata lengkap ini juga mulai melakukan pembersihan terhadap laskar-laskar bersenjata yang ada di Bogor. Termasuk Laskar Ciwaringin 33.
Harun Kabir terpaksa meninggalkan rumahnya. Mereka mengungsi ke Sukabumi untuk meneruskan perang gerilya di sana.
Di tengah perang, Panglima Divisi I Siliwangi, Jenderal Mayor AH Nasution mengangkat Letnan Kolonel Eddi Soekardi menjadi Komandan Brigade II Suryakencana yang meliputi wilayah Karesidenan Bogor (Bogor, Sukabumi dan Cianjur).
Harun Kabir sempat didapuk menjadi Kepala Staf Brigade Suryakencana di bawah Divisi Siliwangi. Dia sempat meraih pangkat mayor dalam TNI, namun saat itu ada aturan yang mengharuskan pangkat turun satu tingkat. Harun Kabir pun menjadi kapten.
21 Juli 1947, Belanda menggelar agresi militer pertama. Mereka membombardir Kota Sukabumi. Mereka bergerak dari Bogor, lalu merangsek maju ke arah Cigombong, Cicurug dan Cibadak hingga Sukabumi.
Pasukan TNI memilih meninggalkan kota dan melakukan perlawanan gerilya di hutan-hutan. Kapten Harun Kabir pun memimpin sejumlah pasukan gerilya. Dia meledakkan berbagai obyek vital untuk melawan Belanda. Salah satu aksinya adalah meledakkan jembatan untuk menghambat konvoi tank dan panser Belanda.
Dari Sukabumi, dia bergerak ke wilayah Cianjur untuk terus bergerilya. Di tengah penyakit malaria yang dideritanya, Harun Kabir masih terus memimpin pasukan. Situasi semakin berbahaya. Pasukan Belanda terus memburu Kapten Harun Kabir dan pasukannya.
Keluarga Harun Kabir disembunyikan di tengah hutan Cihurang, di pelosok Cianjur. Lokasinya sangat terpencil. Kadang di sela menjalankan tugas sebagai anggota TNI, Harun Kabir menengok istri dan putri-putrinya di sana. Dia merasa aman, tak sadar ada pengkhianat yang akan membocorkan lokasi rumah itu.
Eksekusi Mati
Hingga, dini hari 13 November 1947, pasukan Belanda menggedor gubuk di Hutan Cihurang itu. Di dalam rumah itu, ada Kapten Harun Kabir dan anak istrinya.
“Harun, keluarlah. Tempat ini sudah kami kepung. Jangan coba-coba melawan,” teriak tentara Belanda itu.
Persembunyian itu rupanya sudah dibocorkan oleh mata-mata. Dengan tenang Kapten Harun Kabir keluar menemui para serdadu Belanda. Dia langsung diikat, dan dibariskan bersama dua pengawalnya. Seorang sersan meneriakkan aba-aba.
“Tembak!”
Sesaat kemudian, para prajurit Belanda itu memberondongkan senjata tanpa ampun pada tiga pejuang Republik Indonesia tersebut.
Harun Kabir dieksekusi mati di depan istri dan ketiga putrinya. Sebelum gugur, dia masih meneriakkan kata-kata: Merdeka!
Kesaksian keluarga, kondisi jenazah Harun Kabir sangat menyedihkan setelah eksekusi kilat itu. Tentara Belanda meninggalkan mereka di pondok itu dengan tiga jenazah. Tinggalah Soekrati, dan tiga putrinya meratapi gugurnya pria yang sangat mereka cintai itu.
Soekrati kemudian mencari pertolongan dengan menggendong putri bungsunya. Dia harus berjalan jauh untuk ke desa terdekat. Sementara dua putrinya ditinggal untuk menjaga jenazah ayah dan dua pengawalnya. Sebuah episode yang luar biasa memilukan membayangkan penderitaan sekaligus ketabahan para wanita itu.
Sejarawan Nasional Prof. DR. Anhar Gonggong menilai sosok Harun Kabir dan keluarganya memiliki ketabahan luar biasa. Soekrati, Istri dan anak-anak Harun Kabir, harus melihat dari dekat bagaimana ayahnya dieksekusi dari jarak dekat oleh tentara Belanda.

“Harun Kabir mengorbankan masa depannya. Mengorbankan hidupnya untuk keluarganya. Untuk kita semua yang hari ini bisa hidup sebagai orang-orang yang merdeka,” kata Anhar.
Harun Kabir sempat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cianjur, kemudian dipindahkan ke pemakaman Ciandam Sukabumi sesuai pesannya.
Atas jasa-jasanya pemerintah Republik Indonesia memberikan bintang gerilya kepada Harun Kabir. Tahun 1970, Presiden Soeharto memberikan anugerah Bintang Sakti untuk Harun Kabir. Sebuah penghargaan yang sangat prestisius untuk anggota militer yang menunjukkan keberanian dan ketabahan luar biasa dalam menjalankan tugas.
DAFTAR PUSTAKA
Jo, Hendi (2023): Demi Republik, Perjuangan Kapten Harun Kabir 1942-1947. Yogyakarta: Matapadi.